Aku datang lagi di tempat ini...

Aku datang lagi ke tempat ini, yang semula pernah kita singgahi untuk mempertemukan sesuatu yang sangat misterius. Aku menginjak tanah ini lagi dan duduk di kursi kayu di bawah pohon ketapang. Begitu lamanya aku tak pernah singgah lagi ke tempat ini, melihat rerumputan yang mulai meninggi dan bunga-bunga bougenville yang mulai berwarna coklat. Daun-daun ketapang yang berserakan pertanda tak ada satu pun kehidupan yang bersandiwara di tempat ini.
Terik matahari seakan menyapaku dan mengucapakan selamat datang untukku. “Tidak aku hanya sebentar” ucapku padaNya yang seakan ingin membuatkanku secangkir lemon tea ice. Ketika seseorang yang kutunggu datang, aku menyambutnya seperti malam yang menyambut begitu banyak bintang, biasa saja, tak ada yang istimewa.
Kali ini aku tak mengerti, apakah yang dia bawa adalah perhatian atau sekedar rasa kasihan. Tapi biarlah, aku tak mau menyibukkan asumsiku untuk hal yang tak mungkin bisa aku sambut lagi seperti dahulu. Aku cukupkan saja, tak ada lagi file-file yang ingin kubuka, biar tersimpan sampai termakan virus.
Dua pasang mata beradu dalam latar tempat ini,hhmmm, tak kubiarkan mataku terpejam untuk sedetik. Meragu untuk memulai sebuah percakapan, hingga dia lanjutkan lagi bahasa terdahulu yang hampir saja aku lupakan. Pelan – pelan dia buka kembali tirai panggung yang telah lama kututup, dia coba lagi masuk dan melakoni watak yang dulu dia pernah perankan. Aku terhanyut oleh permainannya yang meyakinkan, ish,,,ini bukan lagi waktunya.
Menyadari bahwa saat ini bukan lakon ini yang kumainkan, aku berada dalam episode yang berbeda. “ Dan tolong kau pahami. Jangan yang ada ditiadakan dan jangan yang tiada diaada-adakan. Sudah cukup kesempatan yang kuberikan untuk kau pahami dan kau lewati. Sudah cukup karpet panjang yang kugelar menuju pintu hatiku, dan kau sama sekali tak melewati”
Perbincangan kami berdurasi hingga senja nampak dalam genggaman Langit. Kami tak lagi membicarakan janji dan kata-kata yang melayang, tapi kami mendiskusikan tentang kehidupan yang akan kami jalani walau sangat ringkas dan masih membutuhkan banyak penjelasan. Sesegera mungkin aku dan dia harus meninggalkan tempat ini, karena tak ada lagi cahaya yang dulu sempat menerangi hati kita. Beranjak dari kursi ini, melewati jalan yang saling berlawanan. Hanya sebuah doa “ Semoga anda mendapatkan yang terbaik” menutup perbincangan kami sebelum melewati setapak jalan kita masing-masing.
Dan usai sampai di sini. Tak ada lagi cerita. Tak ada lagi yang perlu diperpanjang. Semua kurasa sudah cukup. Aku berjalan di jalanku dan dia berjalan di jalannya. Kami sama-sama berjalan. Menggapai hidup yang lebih berarti. Dan kami menyadarinya, tak ada lagi yang mampu tinggal di tempat itu, tak ada lagi yang bisa menempatinya lagi, selain cinta. Biarlah cinta yang tetap tinggal dan sesekali mengajak kita untuk menonton kisah masa lalu.

Baso, Bukittinggi 21 November 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mother how are you today ?

Salam hangat

A.D.I.L.