Nyepi Ketiga di Tanah Rantau.
Cerita ini aku lukiskan di bawah awan – awan yang menggantung di suatu Nagari.
Dalam koordinat berbeda di bumi ini.
Di suatu sisi geografis yang teramat jauh dari pandangan semula.
Matahari bersaksi akan kebisuanku yang sendu.Bagai angin, rasa ini tak nampak namun selalu mengusik. Kehangatan pagi ini tak akan sama dengan kehangatan pagi yang kurasakan tiga tahun sebelumnya.Aku ingin merasakan kembali desah rumput-rumput yang rindu kedamaian. Jalan yang lebih bisu dari biasanya.Dan debu yang bermimpi seharian.
Kutatap sedetik suara alam, akankah aku merasakan hal yang sama dalam waktu dan tempat yang berbeda. Menampar ego dengan sekumpulan ketenangan yang akan kita rasa selama dua puluh empat jam. Menyibak sepi dengan kehangatan yang lebih berharga dari bebatuan yang mengkilap. Terlalu berharga. Hingga jiwa ini kubiarkan begitu saja mencari-carinya.
Kepada angin barat sampaikanlah salamku untuk orang-orang yang telah berkesan dalam setiap cerita Nyepiku.Yakinkan pula bahwa aku di sini baik-baik saja dan sangat merindukan mereka. Hingga mereka bisa melewati malam Nyepi dengan penuh khidmat tanpa ada kekhawatiran yang mengganggu.
Aku terlalu jauh dari tempat mereka berada. Nyepiku yang sepi. Aku maknai sendiri dengan kekuatan hati yang Tuhan berikan. Aku nikmati setiap detik yang berbicara kepadaku. Melantunkan indahnya bait-bait mantra dalam sunyinya hati. Waktu terasa begitu berarti ketika aku berada dalam perubahan. Ketika pagi menjadi siang dan ketika siang menjadi malam. Hingga pagi tersenyum kembali bersama rindu yang berlalu.
Nyepiku yang ketiga di tanah ini,
bersama sepi...
Aku rindu ramainya pawai ogoh-ogoh yang berarak mengitari setiap alun-alun. Aku rindu kegagahan anak-anak yang membawa obor dalam gelapnya malam Tilem Kesanga. Aku juga rindu sorak-sorai pemuda yang membuktikan kehebatan mereka dalam mahakaryanya.
Yah, aku rindu semua tentang itu.
Saat bintang – bintang berpesta pada indahnya malam Nyepi. Saat itu pula aku ingin duduk di teras rumahku sambil bercerita tentang apa saja yang ingin kuceritakan. Membagi tawa dan harapan dengan orang-orang yang kusayangi. Menikmati nyanyian alam dalam keheningan yang berpadu.
Aku dan malam Nyepi. Bagai sebuah cerita anak hilang. Sekencang apapun aku mengisak, tak akan bisa kutemukan jika jalan ini belum aku lewati. Kesabaran. Mungkin hanya kata ini yang aku butuhkan saat ini.
Aku titipkan kalimat-kalimat doaku dalam asap dupa yang lembut. Aku persembahkan cinta kasihku dalam wangi dan indahnya bunga-bunga . Aku suarakan rasa syukurku dalam genta yang membahana.
Dan di malam suci ini, aku ingin meyakinkan rasa rinduku. Yang selalu menghuni tubuhku saat pikiran tak sempat lagi berkata-kata. Aku tak ingin rapuh oleh kerinduan, aku tak ingin jatuh oleh ketakutan. Meskipun aku tak terbentuk dari hati berlapis baja namun aku tak mau mereduksi kadar kekuatannya dengan pikiran-pikiran mustahilku.
Bagiku ini hanyalah sebuah konsekuensi. Hanyalah sebuah kerinduan yang belum saatnya untuk dipenuhi. Hanyalah sebuah kenyataan yang akan menjadi cerita untuk kehidupanku selanjutnya.
Selamat Tahun Baru Saka 1933
Tahun Baru yang akan menciptakan manajemen baru dalam seluruh elemen hidupku.
Menjadi pijakan pertama dalam kedewasaanku.
Menciptakan pagar-pagar yang kokoh dalam kerasnya angin kehidupan.
Akan kutanamkan pikiran, perkataan dan perbuatan suci dalam ladang kehidupanku.
Dan tuntunlah kami Tuhan,
hingga aku dan mereka mampu melewati setiap indahnya fajar dan mentari yang tenggelam sampai terbit kembali...
Sumbar, 1 Maret 2011
Komentar
Posting Komentar