Hallo, apa kabar?

Selamat malam,
Sudah lama kita tak bersama dalam satu tempat di bawah langit penuh keajaiban.
Untuk yang masih asyik menikmati semilir angin Mamiri.
Untuk yang tersenyum dalam indahnya lantunan Gurindam  Duabelas .
Untuk yang masih berselimut dalam sejuknya hawa tanah Periangan.

Seseorang yang berdiri di antara megahnya Bukit Barisan menyapamu dan sekedar mengajakmu untuk mengingat-ingat. Tentang cerita dan tentang rasa yang menyatu dalam mimpi kita yang sama.
 Pikiranku tiba-tiba membuka kembali arsip yang telah aku kodifikasikan dalam laci-laci syaraf otakku. Masih utuh, karena belum terlalu lama kita tinggalkan. Kita dan kesibukan kita yang membiarkannya menjadi kenangan dalam masa perjuangan ini.
Kehangatan yang aku rasakan saat aku mengenangmu dalam kerinduan. Penjaga malam,tolong bisikkan aku tentang cerita lalu yang pernah aku ukir bersama mereka. Perdengarkan aku tentang tawa dan canda yang begitu berharga. Perlihatkan aku lagi tentang kebersamaan yang pernah aku rasa bersama mereka. Letakkan aku dalam keindahan rindu yang berbinar-binar.
Selat Bali,
Saksi perjalanan yang memisahkan dan menyatukan kita. Dalam harapan dan keharuan yang mendalam. Namun semangat itu Teman, menjadi umpan kita untuk melanjutkan sisa-sisa perjuangan kita.
Kita menyatu.
Kita berpisah.
Dan tunggulah kebersamaan kita kembali.
Jalinan waktu yang kusambung dalam pengembaraanku memahami kalimat “Terima sepenuhnya atau Tolak sepenuhnya” sudah akan habis masanya. Dan kita akan kembali dengan lanjutan episode kebersamaan yang sempat kita tinggalkan.
Sepi ini membiarkan seluruh sudut pandangku mengarah pada khayalan yang akan kita gapai sebentar lagi. Semua yang kita kendalikan dan semua yang kita maknai menjadi jembatan dalam mendewasakan kita.Ketika kita bertemu kembali.  Kita memang sudah tak semuda dulu. Kita memang sudah terlalu tua untuk mengulang yang pernah kita lewati.
Aku ingin kita kembali dalam lantunan lagu semangat seperti ketika aku bertemu kalian dengan kemeja putih dan bawahan hitam serta rambut yang masih belum sependek hari ini. Aku ingin mewujudkan mimpi yang sama seperti kalian miliki di waktu kita pertama kali menginjakkan kaki di lembah Manglayang.
Bersama kalian, aku ingin menikmati lagi sedapnya sajian lelucon dan tawa kita dalam ikatan bumbu persaudaraan. 
Bersama kalian, aku ingin menulis lembar demi lembar lanjutan buku kehidupanku dalam pena Hymne Abdi Praja.
Dan bersama kalian juga, aku akan menggunakan Baju Kebesaran berhiaskan airmata bangga orangtua kita....

Dedicated for Bali XIX

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mother how are you today ?

Salam hangat

A.D.I.L.