Cinta dalam Masa Muda
Sesengguhnya cinta telah melekat dalam sanubari setiap insan. Hanya sandiwara kehidupan yang membuatnya berbeda. Cinta bukan sekedar penghias hidup belaka namun juga pengubah dunia. Cinta yang tulus akan menjadi kisah yang sempurna dalam babak-babak kehidupan di bumi ini. Cinta mampu memberi tanpa menerima, melihat dalam kegelapan dan bersenandung dalam kebisuan.
Cinta ibarat oase di padang pasir. Memberi kesejukan dalam kegersangan jiwa yang meradang. Sebuah kata cinta mampu memberi energi dari sebait puisi yang diciptakan pujangga. Sebuah makna cinta mampu menciptakan musim semi dalam hati yang mulai kering.
Masa muda ibarat ilalang yang berwarna hijau. Tajam dan sangat segar. Pikiran yang sejernih air di lereng gunung. Membangkitakan ego yang menyala dalam setiap waktu.
Masa muda yang dikepung kesempatan yang mungkin tak akan menawarkan diri di kemudian hari. Masa muda yang keras akan penggodokan terhadap mental dan pikiran, yang akan menjadi acuan untuk menjalani kehidupan selanjutnya. Masa muda yang tak kenal kepasrahan dan hanya kenal kata semangat dan pantang untuk menyerah.
Masa muda oh masa muda,
Seakan menjadi jaminan untuk duduk di kursi goyang ketika dahi itu mulai mengerut. Memberikan warna dalam cerita yang nanti akan diterbitkan oleh penerus. Menjadi kebanggaan pada diri sendiri dalam pertarungan mencari jati diri.
Masa muda yang keemasan. Penuh semarak dan penuh cerita yang sangat berkesan. Sangat menganggumkan untuk mata-mata yang saling memandang.Menjadi start dalam lomba marathon di jalanan yang riuh.
Dan ketika cinta sudah membisikkanmu tentang kharismanya, jangan sampai membiarkan hati itu tak berkutik. Membinar-binarkan cahaya semu yang mengahalangi pandangan. Sampai menutup jalan yang telah direncanakan sebelumnya.
Cinta dalam masa muda adalah sepenggal kisah yang sulit terlupa di kemudian hari.Menjadikannya indah namun kadangkala menyiksa.
Cinta menjelma fiktif. Penuh dengan imajinasi dan khayal. Membiarkan pikiran melarut-larut dalam nuansa tersipu-sipu. Cinta ibarat berselimut dalam musim dingin. Sangat nyaman dan tak ingin lepas. Membiarkan otot dan tulang bermanja-manja di dalamnya. Cinta yang diagung-agungkan melebihi cintanya kepada Sang Pemilik Cinta. Berawal dari ketertarikan yang semu. Menjadi ancaman nafsu yang harus dikendalikan.
Berpikir tentang cinta dalam masa muda sama dengan mengkhayal di bawah pohon rindang. Sangat imajinatif namun kurang rasional. Yang dicarinya hanya keindahan dalam hati dan bukan suatu tujuan yang pasti. Membiarkan perencanaannya hanyut dan terhempas begitu saja. Hilang dimakan perasaan yang melayang-layang.
Dan yang indah itu ceritakanlah tentang sebuah kesetiaan dan keihklasan. Namun jika itu menyiksa, pahami atau kau yang tenggelam dalam siksaan itu. Hati ini mungkin haus dengan kebutuhan untuk dicintai dan diperhatikan. Lapar akan santapan belaian yang di dapat dari mata yang teduh. Apabila cinta sejati telah kau temukan maka kau tak perlu lagi bercanda dengan tangisan-tangisan yang menyesakkan.
Jadikan doamu sebagai benteng agar cinta tak semena-mena mencabik-cabik pekarangan di hatimu. Teduhkan dengan bait-bait mantra dari Sang Penguasa Semesta sehingga hati ini benar-benar yakin bahwa cinta hanya milikNya. Dan percaya suatu saat nanti, di waktu dan cara yang tepat cinta akan bertutur tentang satu nama yang akan menjadi pemilik hatimu selamanya.
Bukittinggi, 14 Maret 2011
Komentar
Posting Komentar