TRIP TO HONGKONG
Selang beberapa minggu dari perjalanan saya ke Hongkong, saya kembali ingin berbagi petualangan saya selama berada di negara berpenduduk etnis Tionghoa tersebut. Kami memulai perjalanan dari Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali terbang menuju Hongkong Internasional Airport. Setibanya di Tanah Hongkong kami disambut dengan suhu 5 derajat dan sesegera mungkin kami menyiapkan perlengkapan winter yang sudah kami persiapkan dari tanah air.
Selang beberapa minggu dari perjalanan saya ke Hongkong, saya kembali ingin berbagi petualangan saya selama berada di negara berpenduduk etnis Tionghoa tersebut. Kami memulai perjalanan dari Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali terbang menuju Hongkong Internasional Airport. Setibanya di Tanah Hongkong kami disambut dengan suhu 5 derajat dan sesegera mungkin kami menyiapkan perlengkapan winter yang sudah kami persiapkan dari tanah air.
Rasa dingin pun menyerang, namun hati ini terhangatkan dengan rasa takjub ketika melihat gedung-gedung tinggi mencakar langit. Kota yang cukup rapi dengan tata ruang yang apik. Teknologi yang dimiliki dimanfaatkan untuk kehidupan masyarakat disana. Segalanya serba modern dengan sentuhan-sentuhan mandarin yang tentunya menambah kesan bahwa saya sedang berada di tanah kelahiran Jacky Chan.
Menurut penuturan tour guide, bangunan-bangunan yang berdiri megah merupakan hasil dari pesatnya perkembangan Negara Hongkong ketika masih dijajah Inggris. Kini Hongkong yang telah dikuasai China justru berkembang dengan pelan dan hal ini tampak dari hanya sedikit bangunan-bangunan yang kekinian, semua mempunyai gaya arsitektur yang cukup lama.
Setelah malam tiba, kami mengunjungi Ladies Market yang berada di Kwo Loon. Seperti lazimnya pasar malam, di sana menjual berbagai macam pakaian, produk teknologi, makanan dan bahkan terdapat live musik di beberapa titik jalan disana. Sambil menahan dingin, kami berjalan mengitari pasar malam sambil mencuci mata. Mata uang yang digunakan disana adalah Hongkong Dollar. 1 HKD = Rp. 1.850,00 (kurang lebih). Menurut saya pribadi, harga barang-barang di Hongkong cukup mahal dibandingkan ketika kita berbelanja di Indonesia. apalagi jika pedagang tahu bahwa kita turis maka dapat dipastikan harga akan berlipat ganda.
Keesokan harinya, kami melakukan city tour, mengunjungi beberapa tempat yang ada di Hongkong, seperti : Victoria Peak dengan keindahan pegunungan Hongkong yang dapat dinikmati dengan Victoria Tream. Menaiki puncak Victoria Peak dengan lintasan yang amat sangat terjal. Ketika sampai di puncak, terdapat Maddame Tussaud yang penuh dengan patung-patung lilin tokoh-tokoh dunia. Saya sangat takjub ketika melihat betapa pahatan patung-patung lilin menyerupai aslinya, mulai dari tokoh politik, perfilman bahkan tokoh sejarah pun berada disana.
Setelah menyusuri Maddame Tussaud, kami menuju Avenue of Street di Hongkong. Di sana terdapat banyak telapak tangan artis-artis Hongkong. Santap siang kami nikmati di Jumbo Floating Restaurant. Sebuah Restoran di atas kapal yang amat megah dengan hidangan Chinese Food yang nikmat. Kemudian kami berkesempatan untuk ke wahana SKY 100, dengan teknologi mutakhir yang dimiliki Hongkong kami bisa mencapai lantai ke 100 sebuah gedung dengan waktu sekejap.
Hari ketiga kami melakukan perjalan ke Shenzhen, sebuah kota di Negara China yang memiliki keragaman yang khas. Namun berbeda dengan Hongkong, Shenzhen termasuk negara sedang berkembang yang kemajuannya kurang lebih mirip dengan Jakarta. Di Shenzhen, terdapat Lowu Mall yang sering disebut oleh wisatawan Indonesia sebagai Mangga Satu. Tak ubahnya seperti Mangga Dua Jakarta, di Lowu Mall menjual berbagai macam produk fashion mulai dari yang ori hingga KW. Proses transaksi disana menggunakan mata uang Yuan. 1 Yuan = Rp. 2.100 (kurang lebih). Berbeda dengan di Hongkong, barang-barang di Lowu Mall amat sangat terjangkau bagi saya. Bahkan beberapa penjual sudah fasih berbahasa Indonesia karena seringnya wisatawan Indonesia yang berbelanja disana.
Di Shenzhen terdapat tempat wisata "Window Of The World" yang memajang berbagai miniatur dunia. Kami berkeliling dengan kereta dan melihat beberapa miniatur dunia yang tampak seperti asli, seperti Candi Borobudur, Menara Pizza, Air Terjun Niagara, Menara Eiffel dan lain-lain. Kemudian mata kami dimanjakan dengan pertunjukan kolaborasi tradisional modern di Splendid of China.
Demikian sekilas cerita tentang perjalanan saya ke Hongkong dan Shenzhen, semoga menjadi inspirasi dan referensi bagi teman-teman yang ingin bepergian dengan tujuan yang sama. Semoga saya bisa bercerita lagi tentang kehebatan dunia ini di lain kesempatan (kalau ada rejeki, hehehe)... Terimaksih :)
Komentar
Posting Komentar